Mahasiswa UNG Ciptakan Hermione Karawo, Perpaduan Sulaman Ikat dan Manila

paripurna.co.id Gorontalo – Inovasi kreatif kembali lahir dari mahasiswa Universitas Negeri Gorontalo (UNG). Tim mahasiswa yang diketuai oleh Nursia Malik, dari Program Studi Pendidikan Matematika, berhasil menciptakan terobosan baru dalam dunia fashion tradisional Gorontalo dengan memadukan dua teknik sulaman, yakni sulaman ikat dan sulaman manila, ke dalam satu kain karawo.

Karya tersebut tercipta melalui Program Pembinaan Mahasiswa Wirausaha (P2MW) yang didampingi langsung oleh Unit Penunjang Akademik Pengembangan Karier dan Kewirausahaan (UPA PKK) UNG. Inovasi itu juga berhasil lolos dalam Program Nasional Pembinaan Wirausaha dari Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi.

Produk yang diberi nama Hermione Karawo ini tetap mempertahankan nilai estetika khas karawo, sekaligus menampilkan kekayaan visual dari perpaduan dua teknik sulaman yang sebelumnya diterapkan secara terpisah.

“Kami melihat peluang untuk memperkaya karawo sebagai warisan budaya Gorontalo. Selama ini, sulaman ikat dan manila berjalan sendiri-sendiri. Melalui riset dan eksplorasi desain, kami mencoba menggabungkannya dalam satu kain, dan hasilnya sangat menarik. Ini menjadi simbol sinergi antara inovasi dan tradisi,” ujar Ketua Tim Hermione Karawo, Nursia Malik, Rabu (24/09/2025).

Dukungan penuh datang dari UPA PKK UNG yang aktif memfasilitasi mahasiswa dalam mengembangkan potensi kewirausahaan berbasis kearifan lokal. Ketua Bidang Kewirausahaan UNG, Yulinda Ismail, S.Pd., M.Si., menyampaikan apresiasinya atas karya tersebut.

“Karya ini membuktikan bahwa warisan budaya seperti karawo bisa terus berkembang tanpa kehilangan identitasnya. Kami bangga karena mahasiswa mampu menciptakan karya bernilai ekonomi sekaligus budaya tinggi. UPA PKK akan terus mendampingi hingga produk ini siap bersaing di pasar nasional maupun internasional,” ungkap Yulinda.

Dalam pengembangannya, tim Hermione Karawo berkomitmen menjalin kolaborasi dengan pengrajin lokal guna mendorong produksi massal tanpa mengurangi kualitas sulaman tangan yang menjadi ciri khasnya.

Selain itu, mereka juga menghadirkan layanan pemesanan khusus (custom order) sesuai kebutuhan konsumen. Mulai dari busana, aksesori, hingga produk dengan desain personal untuk keperluan tertentu, setiap karya ditawarkan dengan sentuhan eksklusif yang memberi nilai tambah bagi pembeli.

Melalui inovasi ini, mahasiswa UNG kembali menunjukkan bahwa tradisi dan kreativitas dapat berjalan beriringan dalam memperkuat identitas budaya sekaligus meningkatkan daya saing global.

Komentar