Gorontalo – Sebagai bentuk tanggung jawab moral dan intelektual mahasiswa terhadap arah perkembangan institusi pendidikan, Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Universitas Gorontalo akan menggelar Dialog Akademis bertajuk “Reformasi Kampus dan Tantangan Regenerasi: Siapa yang Layak Menahkodai Universitas Gorontalo”, pada Selasa, 21 Oktober 2025, bertempat di Warkop Perjuangan Universitas Gorontalo.
Kegiatan ini akan menghadirkan sejumlah narasumber penting, yakni Moh. Rolli Pamata, Ketua Dewan Pengurus Yayasan Pendidikan Duluwo Limo Lo Pohalaa (YP-DLP); Rifa’i Ali, Penjabat Rektor Universitas Gorontalo; Zulfikar Usira, perwakilan alumni; serta perwakilan BEM Universitas Gorontalo selaku penggagas utama dialog tersebut.
Presiden BEM Universitas Gorontalo, Erlin Adam, menjelaskan bahwa kegiatan ini bertujuan menghidupkan kembali tradisi berpikir kritis dan rasional di lingkungan kampus.
“Dialog ini bukan tentang siapa yang lebih pantas secara politik, melainkan siapa yang mampu membawa universitas ke arah yang lebih maju secara akademik, etis, dan sosial. Kita ingin membangun kesadaran bersama bahwa kepemimpinan kampus harus lahir dari ruang ilmiah, bukan dari kompromi kepentingan,” ujar Erlin.
Ia menegaskan, dialog tersebut juga menjadi ajakan terbuka bagi seluruh elemen kampus untuk berpikir secara objektif mengenai arah regenerasi kepemimpinan universitas.
“Kita ingin memastikan bahwa masa depan Universitas Gorontalo ditentukan oleh ide, bukan oleh ego. Karena itu, mari datang dan berkontribusi dengan gagasan ilmiah,” tambahnya.
Menurut panitia pelaksana, tema “Reformasi Kampus dan Tantangan Regenerasi” diangkat bukan tanpa alasan. Secara historis, reformasi kampus merupakan bagian dari gerakan panjang mahasiswa Indonesia yang menuntut tata kelola universitas yang transparan, akuntabel, dan berorientasi pada ilmu pengetahuan, bukan pada kekuasaan administratif.
Adapun tantangan regenerasi menggambarkan dinamika pergantian kepemimpinan akademik yang tidak hanya bersifat struktural, tetapi juga menyangkut kesinambungan nilai, visi, dan etika intelektual.
Kriteria kepemimpinan yang diharapkan, menurut BEM, meliputi tiga aspek utama: Kapasitas intelektual, yakni kemampuan berpikir strategis dan berbasis ilmu pengetahuan. Kapasitas moral, menjunjung tinggi etika akademik dan tanggung jawab sosial. Dan Kapasitas visioner, memiliki arah pembangunan kampus yang berjangka panjang dan berakar pada nilai keilmuan.
Dengan demikian, tema ini dinilai relevan untuk mengukur sejauh mana Universitas Gorontalo mampu melakukan pembaruan internal secara sehat dan berkeadaban ilmiah.
BEM Universitas Gorontalo menegaskan bahwa kegiatan ini bukan ajang politik kampus, melainkan ruang ilmiah untuk membangun kesadaran bersama tentang pentingnya regenerasi kepemimpinan yang beretika dan berwawasan akademis.
“Kita ingin menjadikan dialog ini sebagai momentum moral dan intelektual, agar kampus tidak hanya mencetak sarjana, tetapi juga melahirkan pemimpin yang berpikir dan berintegritas,” pungkas Erlin Adam.
Dialog tersebut juga akan mempertemukan tiga pilar utama dalam kehidupan universitas: yayasan sebagai pemegang kebijakan struktural, rektorat sebagai penggerak akademik, dan alumni sebagai representasi moral serta historis kampus. Kolaborasi ketiganya diharapkan melahirkan model kepemimpinan yang inklusif, terbuka, dan berorientasi pada pengembangan ilmu pengetahuan.
Dalam konteks akademik, sinergi tersebut sejalan dengan konsep triple helix of university governance, di mana seluruh unsur kampus bekerja bersama membangun arah strategis yang berpihak pada kemajuan ilmu pengetahuan dan kesejahteraan masyarakat.
Melalui semangat reformasi dan regenerasi ini, BEM Universitas Gorontalo berharap universitas mampu menegaskan kembali perannya sebagai rumah bagi akal dan nurani, tempat tumbuhnya gagasan dan perjuangan kebenaran ilmiah.
Kegiatan ini diharapkan menjadi momentum untuk memperkuat identitas Universitas Gorontalo sebagai pusat nalar ilmiah dan moralitas publik, sekaligus menjadi contoh bagi kampus lain bahwa perubahan sejati berawal dari keberanian berpikir kritis dan berdialog terbuka.







Komentar