Gorontalo – Bupati Gorontalo Sofyan Puhi secara resmi menutup rangkaian Peringatan Hari Aksara Internasional ke-60 tingkat Kabupaten Gorontalo Tahun 2026 yang dirangkaikan dengan kegiatan Pramuka Saka Widya Budaya Bhakti Pangkalan SPNF, Minggu (20/09/2026).
Kegiatan yang berlangsung di lapangan SPNF SKB Limboto tersebut menjadi momentum untuk memperkuat komitmen pemerintah daerah dalam meningkatkan kemampuan literasi masyarakat sekaligus memperluas akses pendidikan nonformal.
Dalam sambutannya, Bupati Sofyan mengatakan, peringatan Hari Aksara Internasional tahun ini mengusung tema global UNESCO, “Literacy for People, the Planet and Prosperity”, yang dimaknai di tingkat daerah menjadi “Literasi untuk Sesama, Semesta, dan Sejahtera.”
Menurutnya, literasi tidak lagi sebatas kemampuan membaca dan menulis, tetapi telah berkembang menjadi kemampuan masyarakat dalam memahami informasi, memanfaatkan teknologi, berpikir kritis, menyaring informasi, serta mengambil keputusan secara bijak.
“Literasi hari ini bukan sekadar bisa membaca tulisan, tetapi juga mampu membaca keadaan, membaca perubahan zaman, dan membaca peluang untuk memperbaiki kehidupan,” ujar Sofyan.
Ia menjelaskan, persoalan literasi masih menjadi perhatian dunia. Berdasarkan data yang disampaikan dalam sambutannya, UNESCO mencatat pada 2024 masih terdapat sekitar 739 juta pemuda dan orang dewasa di dunia yang belum memiliki kemampuan literasi dasar.
Selain itu, sekitar empat dari 10 anak belum mencapai kemampuan membaca minimum, sementara 272 juta anak dan remaja tidak bersekolah pada 2023.
Di Indonesia, lanjut Sofyan, berdasarkan data Badan Pusat Statistik, angka melek huruf penduduk usia 15 tahun ke atas pada 2024 telah mencapai 96,67 persen. Meski demikian, capaian tersebut tetap menyisakan pekerjaan rumah karena masih terdapat masyarakat yang membutuhkan layanan pendidikan dan penguatan kemampuan literasi.
Sementara itu, secara nasional angka buta aksara penduduk usia 15 tahun ke atas disebut mengalami penurunan dari 3,33 persen pada 2024 menjadi 2,90 persen pada 2025.
Untuk Provinsi Gorontalo, angka buta aksara tercatat 1,45 persen pada 2024 dan menjadi 1,46 persen pada 2025.
“Angka kenaikan 0,01 persen memang terlihat kecil. Tetapi bagi pemerintah daerah, satu orang pun yang masih mengalami buta aksara tetap merupakan persoalan yang harus kita selesaikan,” tegasnya.
Pendidikan Nonformal Harus Terus Diperkuat
Bupati Gorontalo menegaskan, pemberantasan buta aksara dan peningkatan literasi membutuhkan kerja bersama seluruh pemangku kepentingan.
Pemerintah, menurutnya, tidak dapat bekerja sendiri. Kolaborasi diperlukan antara satuan pendidikan, pendidik dan tutor, keluarga, masyarakat, dunia usaha, organisasi kemasyarakatan, relawan, serta berbagai pihak lainnya.
Ia juga menekankan pentingnya memperluas layanan pendidikan nonformal sebagai ruang bagi masyarakat yang belum memperoleh kesempatan pendidikan secara optimal.
Berbagai strategi, kata Sofyan, perlu terus diperkuat, antara lain melalui Bantuan Operasional Penyelenggaraan (BOP) Keaksaraan, BOP Kesetaraan, BOP Pemberdayaan Remaja dan Perempuan Dewasa, penguatan peran mitra dan relawan, revitalisasi pembelajaran, serta perluasan layanan pendidikan nonformal.
“Pendidikan nonformal harus terus hadir sebagai ruang kedua yang membuka kesempatan bagi masyarakat untuk belajar, berkembang, dan meningkatkan kualitas hidup,” katanya.
Sofyan juga menyampaikan apresiasi terhadap peningkatan jumlah peserta didik serta dukungan pembiayaan dari pemerintah pusat terhadap layanan pendidikan nonformal.
Menurutnya, capaian tersebut merupakan hasil dari kerja sama, kerja keras, dan komitmen berbagai pihak.
Pramuka Saka Widya Budaya Bhakti Didorong Jadi Generasi Berkarakter
Dalam kesempatan tersebut, Bupati Gorontalo juga memberikan pesan khusus kepada peserta Pramuka Saka Widya Budaya Bhakti yang mengikuti rangkaian kegiatan.
Ia meminta semangat belajar, disiplin, kemandirian, kepedulian, dan pengabdian yang diperoleh selama kegiatan terus diterapkan dalam kehidupan sehari-hari.
“Jadilah generasi yang cerdas, berkarakter, terampil, peduli terhadap sesama dan lingkungan, serta siap menghadapi perubahan zaman,” pesannya.
Sofyan berharap momentum Hari Aksara Internasional tidak berhenti sebagai kegiatan seremonial, tetapi mampu melahirkan gerakan literasi yang berkelanjutan di tengah masyarakat.
“Jadikan literasi sebagai gerakan. Jadikan pendidikan sebagai kebutuhan. Dan jadikan pengetahuan sebagai kekuatan untuk membangun kehidupan masyarakat yang lebih baik,” ujarnya.
Menutup sambutannya, Bupati Gorontalo menyampaikan penghargaan kepada seluruh pendidik, tutor, tenaga kependidikan, pengelola pendidikan nonformal, pembina Pramuka, peserta didik, serta seluruh pihak yang telah berkontribusi dalam menyukseskan kegiatan.
Selanjutnya, dengan mengucapkan Alhamdulillahi Rabbil ‘Alamin, Bupati Sofyan secara resmi menyatakan Peringatan Hari Aksara Internasional ke-60 tingkat Kabupaten Gorontalo Tahun 2026 yang dirangkaikan dengan kegiatan Pramuka Saka Widya Budaya Bhakti Pangkalan SPNF ditutup.
Ia berharap kegiatan tersebut dapat memperkuat komitmen bersama dalam memberantas buta aksara, memperluas budaya literasi, dan meningkatkan kualitas sumber daya manusia di Kabupaten Gorontalo.







Komentar