Limbah Berbau dari Pabrik Minuman di Tibawa Dikecam, Aktivis Desak Audit Lingkungan

paripurna.co.id Gorontalo – Bau menyengat yang diduga berasal dari limbah produksi PT. Tirta Anugrah Tibawa, perusahaan minuman bermerek Panther, menuai sorotan tajam dari kalangan aktivis. Mereka mendesak pemerintah daerah dan instansi terkait segera melakukan investigasi menyeluruh atas dugaan pencemaran lingkungan tersebut.

Salah satu aktivis Gorontalo, Kamil Damisi, menilai bahwa persoalan bau menyengat yang dikeluhkan warga Desa Botumoputi, Kecamatan Tibawa, merupakan indikasi awal bahwa pengelolaan limbah perusahaan tidak sesuai standar.

“Keluhan warga ini bukan sesuatu yang bisa dianggap sepele. Bau menyengat yang terus-menerus muncul, apalagi saat hujan turun, bisa menjadi tanda bahwa sistem pengolahan limbah perusahaan amburadul dan berpotensi mencemari lingkungan,” kata Kamil kepada wartawan, Selasa (29/07/2025).

Ia juga menyoroti lemahnya pengawasan dari pihak pemerintah dan Dinas Lingkungan Hidup (DLH), yang dinilai lamban menanggapi keluhan masyarakat.

“Seharusnya DLH cepat turun tangan. Apalagi ini menyangkut hak masyarakat atas lingkungan yang bersih dan sehat,” tegasnya.

Kamil mendesak agar DLH melakukan audit lingkungan terhadap PT. Tirta Anugrah Tibawa, termasuk memeriksa dokumen Analisis Mengenai Dampak Lingkungan (AMDAL) dan Izin Lingkungan yang dimiliki perusahaan tersebut.

“Apakah perusahaan ini punya AMDAL? Kalau punya, apakah dijalankan dengan benar? Ini harus ditelusuri,” tegasnya.

Sebelumnya, warga sekitar pabrik mengeluhkan bau tak sedap yang dirasakan sejak perusahaan mulai beroperasi. Salah satu warga, Rahman Datau, menyebut bahwa bau semakin menyengat saat hujan turun.

“Pokoknya kalau hujan turun, baunya sangat menyengat,” kata Rahman.

Menanggapi hal ini, perwakilan perusahaan bernama Nur mengklaim bahwa bau yang dirasakan masyarakat bukan berasal dari limbah, melainkan dari bahan produksi minuman.

“Ini perusahaan minuman Panther, jadi memang baunya itu bau Panther,” ujar Nur saat dikonfirmasi.

Menurut Nur, bahan baku minuman tersebut seluruhnya didatangkan dari Pulau Jawa dan hanya diracik di Gorontalo.

“Depe bahan baku itu semua dari Jawa, dikirim ke sini. Jadi kita di sini tinggal mencampur dan memasak saja,” tutupnya.

Namun, penjelasan tersebut dinilai tidak cukup oleh para aktivis. Mereka menegaskan akan terus mengawal persoalan ini hingga ada kejelasan dan penindakan dari pihak berwenang.

Komentar