Gorontalo – Di tengah upaya pemerintah memperkuat ketahanan pangan nasional, pengembangan benih unggul kelapa dinilai menjadi salah satu kunci untuk meningkatkan produktivitas perkebunan rakyat. Hal itu mengemuka dalam kegiatan Temu Teknologi Pertanian yang digelar pada rangkaian Pekan Nasional (PENAS) Petani Nelayan XVII Tahun 2026 di Aula Balai Sungai Sulawesi II, Selasa (23/06/2026).
Kegiatan yang mengusung tema “Pertanian Modern dalam Mendukung Swasembada Pangan Berkelanjutan” tersebut diikuti peserta kontingen dari berbagai provinsi di Indonesia. Para peserta memperoleh berbagai materi terkait inovasi dan teknologi pertanian modern, khususnya pengembangan komoditas kelapa sebagai salah satu tanaman perkebunan strategis nasional.
Salah satu narasumber, Yulianus R. Matana dari Balai Perakitan dan Pengujian Tanaman Palma, memaparkan teknik penyediaan benih unggul kelapa guna meningkatkan produktivitas perkebunan rakyat.
“Penyediaan benih kelapa dapat dilakukan melalui dua metode, yaitu secara konvensional menggunakan buah atau benih kelapa dan secara nonkonvensional melalui teknologi kultur jaringan,” ujar Yulianus.
Menurutnya, peremajaan tanaman kelapa menjadi langkah penting untuk meningkatkan produktivitas perkebunan. Program tersebut dapat dilakukan dengan memanfaatkan berbagai varietas unggul, mulai dari kelapa dalam lokal yang berasal dari Blok Penghasil Tinggi (BPT) dan Pohon Induk Terpilih (PIT), varietas kelapa dalam, kelapa genjah, hingga kelapa hibrida.
Ia juga menegaskan pentingnya evaluasi Blok Penghasil Tinggi sebagai sumber benih unggul. Blok tersebut merupakan kebun kelapa yang berada dalam satu hamparan dengan luas minimal 1 hingga 5 hektare dan tidak terpencar.
Adapun persyaratan blok pertanaman yang dapat dijadikan sumber benih, antara lain tanaman telah berbuah selama dua tahun berturut-turut dan masih produktif, memiliki produksi minimal 80 butir atau setara dua ton kopra per hektare per tahun untuk kelapa dalam, memiliki koefisien keragaman karakter komponen buah maksimal 20 persen, bebas dari serangan hama dan penyakit utama kelapa, serta berada di kawasan sentra kelapa yang strategis dan mudah dijangkau.
Yulianus menjelaskan, penentuan pohon contoh dalam evaluasi blok dilakukan secara acak menggunakan sistem diagonal maupun metode lompatan. Setiap blok sedikitnya memiliki 30 pohon contoh yang menjadi objek pengamatan.
“Tahapan awal dilakukan dengan menentukan batas keliling kebun dan empat titik sudut kebun sebagai dasar pengambilan sampel tanaman,” jelasnya.
Melalui kegiatan Temu Teknologi ini, peserta PENAS XVII diharapkan dapat membawa pulang pengetahuan dan teknologi terbaru yang dapat diterapkan di daerah masing-masing guna meningkatkan produktivitas pertanian dan mendukung terwujudnya swasembada pangan berkelanjutan.










Komentar