Tutup Festival Literasi 2026, Sekda Sugondo Dorong Transformasi Budaya Tutur ke Budaya Membaca

paripurna.co.id Gorontalo – Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Gorontalo resmi menutup Festival Literasi Kabupaten Gorontalo Tahun 2026 yang mengusung tema “Membaca Hari Ini, Memimpin Hari Esok”. Kegiatan yang berlangsung di halaman Kantor Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Kabupaten Gorontalo, Jumat (16/10/2026), menjadi momentum untuk memperkuat budaya membaca sekaligus mendorong peningkatan kualitas sumber daya manusia.

Hadir mewakili Bupati Gorontalo Sofyan Puhi, Sekretaris Daerah (Sekda) Kabupaten Gorontalo Sugondo Makmur, menyampaikan apresiasi kepada Kepala Dinas Perpustakaan dan Kearsipan beserta seluruh jajaran dan panitia yang telah menyukseskan pelaksanaan festival tersebut.

Menurut Sugondo, Festival Literasi bukan sekadar kegiatan seremonial, melainkan bagian dari upaya nyata pemerintah daerah dalam menggerakkan masyarakat agar menjadikan membaca sebagai kebiasaan dan kebutuhan dalam kehidupan sehari-hari.

Dalam sambutannya, ia menyoroti tantangan pengembangan literasi di tengah masyarakat yang masih lekat dengan budaya tutur atau tradisi lisan. Kondisi tersebut, menurutnya, perlu diimbangi dengan penguatan budaya membaca agar masyarakat tidak hanya menerima informasi melalui percakapan, tetapi juga mampu memperluas wawasan melalui buku dan berbagai sumber bacaan.

“Melalui Festival Literasi ini, kita ingin mentransformasi kebiasaan masyarakat yang semula hanya suka mendengar menjadi masyarakat yang gemar membaca. Membaca harus menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari karena dari sanalah wawasan dan pengetahuan dapat terus berkembang,” ujar Sugondo.

Ia menegaskan, penguatan literasi membutuhkan keterlibatan seluruh elemen masyarakat, mulai dari pemerintah daerah, satuan pendidikan, pengelola perpustakaan, hingga keluarga dan komunitas masyarakat.

Lebih lanjut, Sugondo menyampaikan sejumlah arahan strategis Bupati Gorontalo Sofyan Puhi dalam mendorong pengembangan literasi yang lebih terarah dan memberikan manfaat nyata bagi masyarakat.

Salah satu hal yang menjadi perhatian adalah penguatan perpustakaan desa berbasis inklusivitas dan pemberdayaan ekonomi masyarakat.

Menurutnya, keberhasilan perpustakaan tidak cukup diukur dari jumlah pengunjung atau banyaknya buku yang dibaca. Lebih dari itu, pengetahuan yang diperoleh masyarakat dari bahan bacaan harus mampu diterapkan dalam kehidupan sehari-hari, termasuk untuk meningkatkan produktivitas dan kesejahteraan ekonomi.

Sebagai contoh, pengetahuan mengenai teknik budidaya udang vaname yang diperoleh melalui buku diharapkan dapat diterapkan untuk meningkatkan hasil usaha masyarakat.

Hal serupa juga diharapkan berlaku bagi para pemangku adat dan tokoh masyarakat yang dapat memanfaatkan literatur sebagai referensi dalam memperkaya pengetahuan serta mendukung pelaksanaan peran mereka di tengah masyarakat.

Dengan demikian, perpustakaan desa diharapkan menjadi pusat pembelajaran yang terbuka bagi seluruh lapisan masyarakat sekaligus mendorong lahirnya berbagai inovasi di tingkat lokal.

Pada sektor pendidikan, Sekda Sugondo Makmur mendorong agar lomba resensi buku tidak hanya dilaksanakan ketika siswa mengikuti kompetisi di tingkat kabupaten.

Ia berharap setiap satuan pendidikan, mulai dari sekolah dasar (SD), sekolah menengah pertama (SMP), hingga sekolah menengah atas dan sekolah menengah kejuruan (SMA/SMK), dapat menginisiasi lomba resensi buku di lingkungan sekolah masing-masing.

Langkah tersebut dinilai penting untuk membangun kebiasaan membaca sekaligus melatih kemampuan siswa dalam memahami, menganalisis, dan menyampaikan kembali isi bacaan secara kritis.

Melalui kegiatan resensi, siswa tidak hanya didorong untuk menyelesaikan bacaan, tetapi juga belajar mengembangkan kerangka berpikir, menyampaikan pendapat, serta menilai informasi secara lebih mendalam.

Upaya ini diharapkan dapat membentuk generasi muda yang memiliki wawasan luas, kemampuan berpikir kritis, dan kesiapan menghadapi tantangan masa depan.

Penguatan literasi di Kabupaten Gorontalo juga diarahkan pada pemanfaatan teknologi digital, khususnya melalui pengembangan sistem informasi pemustaka yang terintegrasi.

Sugondo menyampaikan pentingnya pencatatan data pemustaka secara menyeluruh, baik pada perpustakaan daerah, perpustakaan desa dan kelurahan, perpustakaan sekolah, maupun perpustakaan pribadi yang dikelola masyarakat.

Melalui sistem digital tersebut, pemerintah daerah diharapkan dapat memperoleh gambaran yang lebih akurat mengenai perkembangan aktivitas membaca masyarakat.

Data yang terintegrasi juga dapat menjadi dasar evaluasi untuk mengetahui tingkat pemanfaatan fasilitas perpustakaan, mengidentifikasi kebutuhan bahan bacaan, serta merumuskan program peningkatan literasi yang sesuai dengan kondisi masyarakat.

Dengan dukungan data yang memadai, kebijakan pengembangan literasi diharapkan dapat dilaksanakan secara lebih terukur, efektif, dan berkelanjutan.

Sebagai bentuk dukungan konkret terhadap pengembangan budaya membaca, Pemkab Gorontalo juga mendorong penyediaan fasilitas baca di lingkungan perkantoran pemerintahan.

Sugondo mengungkapkan bahwa pemerintah daerah telah mengarahkan bagian umum untuk menyediakan rak-rak buku di sejumlah lorong kantor Bupati Gorontalo, termasuk di area Dulohupa.

Fasilitas tersebut diharapkan dapat mengubah ruang tunggu dan lorong perkantoran menjadi ruang baca publik yang mudah diakses oleh pegawai maupun masyarakat yang datang untuk memperoleh pelayanan.

Kehadiran bahan bacaan di lingkungan perkantoran juga diharapkan dapat menumbuhkan kebiasaan membaca di sela-sela aktivitas sehari-hari.

Langkah ini sekaligus menunjukkan bahwa gerakan literasi tidak harus selalu dilakukan melalui kegiatan besar, tetapi dapat dimulai dengan menyediakan akses bacaan di berbagai ruang publik.

Literasi sebagai Fondasi Generasi Unggul
Menutup rangkaian Festival Literasi Kabupaten Gorontalo Tahun 2026, pemerintah daerah berharap semangat yang telah dibangun selama pelaksanaan kegiatan dapat terus berlanjut dan menjadi gerakan bersama di tengah masyarakat.

Pengembangan literasi tidak hanya menjadi tanggung jawab Dinas Perpustakaan dan Kearsipan, tetapi membutuhkan kolaborasi seluruh perangkat daerah, lembaga pendidikan, komunitas, keluarga, serta berbagai pemangku kepentingan lainnya.

Melalui penguatan perpustakaan, pembiasaan membaca sejak dini, pengembangan kompetisi resensi buku, digitalisasi layanan, dan penyediaan ruang baca publik, Kabupaten Gorontalo diharapkan mampu membangun ekosistem literasi yang lebih inklusif dan berkelanjutan.

Sejalan dengan tema “Membaca Hari Ini, Memimpin Hari Esok”, budaya membaca diharapkan menjadi fondasi dalam membentuk generasi yang berpengetahuan, kritis, kreatif, dan mampu mengambil peran dalam pembangunan daerah.

Komentar

News Feed