Gorontalo – Dalam momentum peringatan Sumpah Pemuda ke-97, refleksi tentang semangat kebangsaan bergema dalam Gorontalo Youth Summit 2025. Momen haru tersaji ketika Rahayu Saraswati Dhirakanya Djojohadikusumo, aktivis sosial dan tokoh muda nasional, tampil sebagai keynote speaker dan membagikan pandangan mendalam tentang makna pengabdian lintas generasi.
Di hadapan ratusan peserta yang mengikuti forum secara daring, Saras, begitu ia akrab disapa tak kuasa menahan haru saat Dr. Funco Tanipu, pendiri The Gorontalo Institute sekaligus inisiator forum tersebut, menuturkan kisah pengabdian panjang keluarga besar Prof. Soemitro Djojohadikusumo.
“Saya sungguh terharu. Kisah yang disampaikan Dr. Funco membuat saya melihat kembali bahwa sejarah keluarga kami bukan tentang kebesaran nama, tapi tentang tanggung jawab dan cinta kepada negeri,” ujar Saras dengan suara bergetar.
Momen menjadi semakin emosional ketika Dr. Funco menayangkan foto hitam-putih keluarga Presiden Prabowo Subianto dan Hasjim Djojohadikusumo semasa hidup dalam pengasingan. Gambar itu memperlihatkan wajah-wajah muda yang tetap tegar di tengah keterasingan, simbol kesetiaan pada tanah air meski jauh dari kampung halaman.
Dalam paparannya, Funco menyebut bahwa jika Sumpah Pemuda kini berusia 97 tahun, maka keluarga Djojohadikusumo telah menulis sejarah pengabdian selama lebih dari dua abad dalam perjalanan republik.
“Keluarga Djojohadikusumo telah menjadi bagian dari sejarah panjang pengabdian bangsa. Dari masa kolonial, kemerdekaan, hingga Indonesia modern, nilai-nilai mereka tetap hidup,” tutur Funco.
Saras pun menyinggung kisah dua pamannya yang gugur muda dalam Pertempuran Lengkong, yakni Kapten Anumerta Soebianto Djojohadikusumo, yang namanya diabadikan pada nama tengah Presiden Prabowo Subianto, serta Kapten Anumerta Soejono Djojohadikusumo, yang namanya disematkan pada ayahnya, Hasjim Soejono.
“Kisah mereka bukan hanya sejarah keluarga, tapi pengingat bahwa pengabdian lahir dari keberanian dan pengorbanan,” ungkapnya.
Ia menegaskan bahwa pengabdian adalah warisan yang hidup dari satu generasi ke generasi berikutnya.
“Saya selalu percaya bahwa pengabdian adalah warisan yang tidak pernah selesai. Ia berpindah dari satu generasi ke generasi berikutnya dan menjadi kompas bagi kita semua untuk terus mencintai Indonesia,” ujarnya.
Dalam pidatonya, Saras juga mengaitkan semangat perjuangan masa lalu dengan tantangan masa kini. Ia mengajak generasi muda untuk memaknai kepemimpinan sebagai panggilan pelayanan, bukan sekadar jabatan.
“Kita sedang menuju 100 tahun Gorontalo pada 2042 dan Indonesia Emas 2045. Semangat Sumpah Pemuda harus diterjemahkan dalam kerja nyata, berpikir jauh ke depan, tapi berpijak pada nilai,” tegasnya.
“Kepemimpinan sejati bukan soal posisi atau kekuasaan, melainkan kesediaan untuk melayani. Kita harus membangun masa depan dengan hati yang jujur dan semangat kolaborasi.”
Bagi Dr. Funco Tanipu, kehadiran Saras dalam forum ini mempertemukan dua hal penting: refleksi sejarah dan arah masa depan.
“Kalau Sumpah Pemuda ke-97 adalah simbol persatuan bangsa, maka kisah keluarga Djojohadikusumo selama 200 tahun adalah simbol pengabdian yang tak pernah putus. Keduanya bertemu dalam diri Rahayu Saraswati Djojohadikusumo sebagai representasi kaum muda Indonesia,” kata Funco.
Forum Gorontalo Youth Summit 2025 pun menjadi penanda bahwa semangat kepemudaan tidak berhenti pada simbol dan slogan, melainkan harus hidup dalam tindakan nyata dan ketulusan untuk melayani bangsa.
“Pengabdian bukan soal waktu,” tutup Saras di akhir pidatonya. “Ia adalah perjalanan panjang yang terus hhidu, dari masa lalu, hari ini, hingga masa depan Indonesia.”













Komentar