Gorontalo – Sinergi Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) dan Kepolisian Negara Republik Indonesia (Polri) di tingkat nasional terus diperkuat hingga daerah. Kemitraan Kapolri Jenderal Polisi Suyudi Ario Seto dengan Rais Aam PBNU KH Miftachul Akhyar dan Ketua Umum PBNU KH Abdul Hakim Mahfudz (Gus Kikin) kini sejalan dengan kerja sama Ketua Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PWNU) Gorontalo Ibrahim T. Sore dan Kapolda Gorontalo Irjen Pol Nurworo Danang.
Penguatan hubungan tersebut tercermin dalam kunjungan Kapolri kepada Rais Aam PBNU KH Miftachul Akhyar di Pondok Pesantren Miftachussunnah, Surabaya, serta pertemuan dengan Ketua Umum PBNU KH Abdul Hakim Mahfudz (Gus Kikin) di Pondok Pesantren Tebuireng, Jombang, pada Sabtu, 17 Oktober 2026. Kedua pertemuan tersebut menegaskan pentingnya kemitraan ulama dan kepolisian dalam menjaga persatuan, kerukunan, serta keamanan masyarakat.
Semangat yang sama diwujudkan di Gorontalo melalui pertemuan Ketua PWNU Ibrahim T. Sore dengan Kapolda Irjen Pol Nurworo Danang di Markas Polda Gorontalo. Pertemuan tersebut membahas penguatan kerja sama sekaligus persiapan Resepsi Hari Santri Nasional 2026 yang akan diselenggarakan pada Kamis, 22 Oktober 2026, di Aula Tinepo, Mapolda Gorontalo.
Polda Gorontalo menjadi tuan rumah kegiatan tersebut sebagai implementasi nyata paradigma Polisi Bersama Masyarakat. Penyelenggaraan Hari Santri di lingkungan kepolisian sekaligus menunjukkan keterbukaan Polda Gorontalo sebagai tempat penyelenggaraan kegiatan keagamaan dan kemasyarakatan serta ruang kebersamaan bagi seluruh elemen masyarakat.
Langkah tersebut sejalan dengan Commander’s Wish Kapolri Jenderal Polisi Suyudi Ario Seto, yang menekankan pentingnya kehadiran Polri di tengah masyarakat melalui pelayanan, keterbukaan, dan kemitraan. Polda Gorontalo menerjemahkan semangat tersebut dengan membuka ruang kolaborasi bersama ulama, santri, pesantren, dan organisasi kemasyarakatan.
Kapolda Gorontalo Irjen Pol Nurworo Danang menegaskan bahwa kepolisian merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari masyarakat. Karena itu, hubungan Polri dengan masyarakat harus dibangun melalui kedekatan, kepercayaan, dan tanggung jawab bersama.
“Polisi lahir dan tumbuh dari masyarakat. Setelah dia menjadi polisi, dia juga bersama masyarakat,” ujar Kapolda Gorontalo dalam pertemuan dengan jajaran PWNU.
Ketua PWNU Gorontalo Ibrahim T. Sore menyampaikan bahwa pelaksanaan Hari Santri Nasional di Mapolda Gorontalo merupakan momentum penting untuk memperkuat hubungan ulama dan kepolisian. Kemitraan tersebut sekaligus menegaskan kontribusi Nahdlatul Ulama, pesantren, dan kalangan santri dalam menjaga persatuan bangsa serta mendukung terciptanya kehidupan masyarakat yang aman dan harmonis.
Resepsi Hari Santri Nasional 2026 mengusung tema “Menguatkan Akar Tradisi, Menjaga Keutuhan Negeri” dan direncanakan dihadiri sekitar 150 peserta dari unsur Nahdlatul Ulama, pesantren, santri, tokoh agama, organisasi kemasyarakatan, serta jajaran kepolisian.
Sinergi PBNU-Polri di tingkat pusat dan PWNU-Polda Gorontalo di tingkat daerah memperlihatkan kesinambungan kemitraan ulama dan kepolisian. Polda Gorontalo bukan hanya menjadi tuan rumah Hari Santri Nasional 2026, tetapi juga menunjukkan komitmen sebagai institusi yang terbuka, hadir, dan bekerja bersama masyarakat, sejalan dengan paradigma Polisi Bersama Masyarakat menuju Gorontalo yang aman, kondusif, dan berkeadaban.













Komentar