Gorontalo – Seorang oknum yang mengaku sebagai perwira polisi berinisial SP, yang sempat menghebohkan warga Desa Biluhu Tengah, Kecamatan Biluhu, Kabupaten Gorontalo, dan diduga bertugas di Kepolisian Resor (Polres) Bone Bolango, kini mendapat tanggapan dari pihak Polres Bone Bolango.
Saat dikonfirmasi, Wakil Kepala Kepolisian Resor (Wakapolres) Bone Bolango, Kompol Karsum Ahmad, SH., membantah keras bahwa oknum yang mengaku sebagai perwira polisi itu bertugas di Polres Bone Bolango. Menurutnya, bahwa oknum berinisial SP tersebut tidak bertugas di Polres Bone Bolango.
“Setelah dilakukan pengecekan, yang bersangkutan bukan anggota Polres Bone Bolango. Jadi setelah melihat foto yang dikirimkan, orang tersebut bukan anggota Polres Bone Bolango,” tegas Karsum lewat pesan WhatsApp, Senin (03/02/2025).
Sebelumnya, seorang wartawan media online Definitif.id mengalami perlakuan tidak menyenangkan saat meliput polemik sengketa tanah di Kantor Desa Biluhu Tengah, Kecamatan Biluhu, Kabupaten Gorontalo, pada Minggu (02/02/2025).
Kejadian bermula saat berlangsung pertemuan antara pihak penggugat dan tergugat terkait sengketa tanah. Pihak penggugat adalah seorang yang mengaku perwira polisi berinisial SP, yang diduga berdinas di Polres Bone Bolango, beserta dua saudaranya. Sementara pihak tergugat adalah beberapa warga Desa Biluhu Tengah.
Dalam pertemuan yang dilaksanakan di Kantor Desa tersebut, SP terlihat beberapa kali menyampaikan pernyataan yang kurang pantas dengan menekankan status dan jabatannya sebagai anggota kepolisian. Namun, saat wartawan Definitif.id mengajukan pertanyaan terkait jabatannya, SP justru mempermasalahkan kehadiran wartawan di lokasi.
“Ayah (sebutan untuk Kepala Desa), ini wartawan siapa yang undang? kenapa ada wartawan di sini? Kalau begini saya mau keluar saja,” ujar SP kepada Kepala Desa selaku fasilitator pertemuan.
Situasi sempat menegang setelah keberatan tersebut dilontarkan. Warga yang hadir mulai menunjukkan reaksi emosional menanggapi sikap SP yang menolak kehadiran wartawan.
Tak berakhir sampai disitu, saat wartawan sedang mewawancarai narasumber, seorang tidak dikenal yang diduga bagian dari rombongan penggugat menghampiri dan mengambil foto tanpa izin. Orang tersebut langsung bergabung dengan kelompok penggugat setelah mengambil gambar.
David Maelite, perwakilan masyarakat, membenarkan adanya sikap arogan dari SP. “Saya melihat langsung perlakuannya kepada wartawan. Dia mempermasalahkan kehadiran wartawan dan menekankan statusnya sebagai polisi berpangkat perwira,” ujar David.
“Seharusnya jika mengaku sebagai polisi, dia harus bersikap adil sesuai tupoksi institusi, bukan malah berpihak pada kepentingan saudara-saudaranya,” tambahnya.
SP sendiri saat dikonfirmasi, menolak untuk memberikan keterangan dan enggan menyebutkan identitas serta tempat tugasnya.













Komentar