Gorontalo – Mantan atlet sekaligus pelatih karate Gorontalo, Poni Pakaya, melontarkan kritik terhadap kepengurusan Pengurus Provinsi (Pengprov) Federasi Olahraga Karate-Do Indonesia (FORKI) Gorontalo terkait pembatalan keberangkatan kontingen menuju Kejuaraan Nasional (Kejurnas) Karate Piala Ketua Umum (Ketum) Pengurus Besar (PB) FORKI IV di Bandung.
Kritik tersebut muncul setelah Pengprov FORKI Gorontalo menerbitkan surat pemberitahuan tertanggal 6 Mei 2026 yang menyatakan keikutsertaan kontingen Gorontalo untuk sementara dibatalkan karena dukungan anggaran yang diharapkan belum dapat direalisasikan.
Poni mengaku kecewa atas keputusan tersebut, terutama karena dua atlet berprestasi yang telah dipersiapkan tampil di ajang nasional akhirnya batal diberangkatkan. Salah satu atlet yang gagal berangkat, kata dia, merupakan atlet asal Kabupaten Gorontalo yang pernah menyumbangkan medali perunggu pada Pekan Olahraga Nasional (PON) Sumatera Utara-Aceh.
“Dulu FORKI Gorontalo mampu memberangkatkan lima sampai delapan atlet ke kejurnas. Sekarang justru atlet-atlet berprestasi banyak yang tidak diberangkatkan. Bahkan ada atlet yang sudah berprestasi di kejuaraan dunia tetapi tidak membela Gorontalo,” ujar Poni, Kamis (07/05/2026).
Ia juga menyoroti minimnya perhatian terhadap atlet yang telah mengukir prestasi internasional. Menurutnya, terdapat atlet asal Gorontalo yang berhasil menjuarai kejuaraan dunia pada tahun lalu, namun tidak lagi membawa nama daerah karena kurangnya dukungan dari pengurus FORKI provinsi.
Poni menilai kondisi tersebut mencerminkan lemahnya pembinaan dan perhatian pengurus terhadap atlet potensial daerah.
“Ini menunjukkan Ketua FORKI Provinsi Gorontalo tidak mampu mencarikan solusi bagi perkembangan karate di daerah. Kalau terus seperti ini, saya meminta Ketua FORKI mundur dari jabatannya,” tegasnya.
Selain itu, Poni turut menyoroti keberadaan Kepala Bidang Pembinaan Prestasi (Kabinpres) FORKI Gorontalo, Sapta Hidayat Dama, yang disebut telah berada di Bandung untuk mendampingi atlet dari salah satu perguruan, sementara atlet hasil seleksi FORKI Gorontalo justru batal diberangkatkan.
Menurutnya, kondisi tersebut semakin memperlihatkan kurangnya perhatian pengurus terhadap atlet yang telah melalui proses seleksi untuk mewakili daerah pada kejuaraan nasional.
Pernyataan Poni kini menjadi perhatian sejumlah pemerhati olahraga karate di Gorontalo yang berharap adanya evaluasi serius terhadap kepengurusan FORKI Provinsi Gorontalo demi masa depan atlet karate daerah.
Sementara itu, Ketua Pengprov FORKI Gorontalo, Danial Ibrahim, saat dikonfirmasi terkait kritik tersebut hanya memberikan tanggapan singkat.
“In Syaa Allah dimudahkan dan dilancarkan segala urusannya. Aamiin Yaa Rabbal Alamin Syukron Katsiran,” katanya.













Komentar