Pohuwato – Perwakilan Perkumpulan Petani Pengelola Air (P3A) Bianio, Lusman Mortiga, menyampaikan apresiasi kepada Kepala Desa Sejoli, Kecamatan Moutong, Kabupaten Parigi Moutong, Provinsi Sulawesi Tengah, atas inisiatif menggerakkan masyarakat untuk bergotong royong melakukan normalisasi Sungai Molosipat.
Apresiasi juga disampaikan kepada Kapolsek Popayato Barat, Kabupaten Pohuwato, Provinsi Gorontalo, atas dukungannya terhadap kegiatan tersebut, serta masyarakat lingkar tambang yang turut berpartisipasi dalam upaya pemeliharaan sungai.
Menurut Lusman, gerakan gotong royong tersebut merupakan bentuk kepedulian bersama terhadap keberadaan Sungai Molosipat yang memiliki peran penting bagi kehidupan masyarakat, khususnya di wilayah perbatasan Provinsi Gorontalo dan Sulawesi Tengah.
“Atas nama P3A Bianio, kami menyampaikan terima kasih dan apresiasi setinggi-tingginya kepada Kepala Desa Sejoli yang telah menginisiasi gerakan gotong royong normalisasi Sungai Molosipat. Kami juga mengucapkan terima kasih kepada Kapolsek Popayato Barat yang telah memberikan dukungan terhadap kegiatan ini, serta masyarakat lingkar tambang yang telah bergotong royong mengambil bagian dalam upaya menjaga sungai,” ujar Lusman dalam keterangan tertulis yang diterima media ini, Senin (12/10/2026).
Ia berharap inisiatif tersebut dapat menjadi inspirasi bagi kelompok masyarakat lainnya, terutama yang berada di kawasan lingkar tambang di wilayah Gorontalo dan Sulawesi Tengah, agar turut berpartisipasi dalam menjaga kelestarian lingkungan.
Lusman menilai kepedulian terhadap lingkungan harus diwujudkan melalui tindakan nyata, bukan sekadar imbauan. Salah satunya melalui kegiatan normalisasi dan pemeliharaan sungai yang diharapkan dapat membantu mengurangi penumpukan sedimentasi serta menjaga kelancaran aliran air.
Upaya tersebut juga dinilai penting untuk mendukung kepentingan masyarakat, khususnya petani yang bergantung pada ketersediaan air untuk kegiatan pertanian.
Terlebih, masyarakat saat ini menghadapi musim kemarau yang berkepanjangan sehingga pengelolaan sumber daya air menjadi semakin penting. Pemeliharaan sungai diharapkan dapat mendukung kebutuhan air masyarakat sekaligus menjadi bagian dari upaya mengantisipasi potensi dampak ketika musim hujan tiba.
“Kami berharap gerakan yang diinisiasi oleh Kepala Desa Sejoli ini tidak berhenti sampai di sini. Semoga menjadi inspirasi bagi kelompok masyarakat lainnya di lingkar tambang, baik di Gorontalo maupun Sulawesi Tengah, untuk bersama-sama mengambil langkah nyata dalam menjaga lingkungan dan sumber penghidupan masyarakat,” tambahnya.
Bagi P3A Bianio, kegiatan tersebut menunjukkan pentingnya kolaborasi lintas wilayah dalam menjaga sungai dan lingkungan. Pasalnya, manfaat sungai tidak hanya dirasakan oleh masyarakat di satu wilayah administratif, tetapi juga oleh masyarakat di wilayah sekitarnya.
Lusman berharap dukungan berbagai pihak dapat terus diperkuat agar upaya pemeliharaan Sungai Molosipat berjalan berkelanjutan dan memberikan manfaat bagi masyarakat, terutama petani yang menggantungkan penghidupannya pada ketersediaan sumber daya air.
“Sungai Molosipat boleh menjadi batas geografis antara dua provinsi, tetapi sungai ini adalah bagian dari kehidupan kita bersama. Menjaganya berarti turut menjaga penghidupan petani, kepentingan masyarakat di wilayah hilir, dan keberlanjutan lingkungan bagi generasi mendatang,” tutup Lusman.







Komentar