Kemenag dan PDM Akan Telusuri Dugaan Ucapan Kasar Guru MIM Iloponu

paripurna.co.id Gorontalo – Kasus dugaan guru honorer Madrasah Ibtidaiyah Muhammadiyah (MIM) Iloponu, Kecamatan Tibawa, Kabupaten Gorontalo, yang disebut melontarkan kata kasar “binatang” kepada siswa kini mendapat perhatian dari Kementerian Agama (Kemenag) Kabupaten Gorontalo dan Pimpinan Daerah Muhammadiyah (PDM). Kedua pihak menegaskan masih akan mengumpulkan informasi sebelum mengambil sikap resmi.

Pihak Kemenag Kabupaten Gorontalo melalui Kepala Seksi (Kasi) Madrasah, Munif Payuyu, mengatakan akan melakukan konfirmasi lebih dulu sebelum memberikan pernyataan final.

“Nanti saya konfirmasi dulu, karena memang dari awal sampai akhir saya tidak tahu. Baru sekarang saya tahu. Sehingganya, saya harus konfirmasi dulu, utamanya ke kepala madrasah,” kata Munif kepada Paripurna, Jumat (26/09/2025).

Munif menjelaskan, MIM Iloponu berstatus sekolah swasta di bawah naungan yayasan. Kemenag hanya berperan sebagai fasilitator, terutama dalam hal penyaluran guru Pegawai Negeri Sipil (PNS) dan anggaran Bantuan Operasional Sekolah (BOS).

“Madrasah itu kan swasta, jadi milik yayasan. Kita di Kemenag memfasilitasi, baik itu guru PNS maupun dana BOS utamanya. Jadi persoalan-persoalan seperti ini menjadi tanggung jawab yayasan. Tapi saya tetap berusaha mengkonfirmasi lebih dulu kepada kepala madrasah maupun guru yang ada itu,” ujarnya.

Sementara itu, Sekretaris PDM Kabupaten Gorontalo, Suwarin Rais Nusi, menyampaikan bahwa pihaknya masih menunggu informasi yang lebih lengkap sebelum memberikan sikap resmi organisasi.

“Untuk tanggapan selaku dalam jabatan organisasi, saya butuh komunikasi dengan pimpinan lainnya. Dan sebelum hal ini ditanggapi, kami butuh informasi dari kedua belah pihak,” kata Suwarin saat dikonfirmasi lewat pesan WhatsApp.

Ia menegaskan, PDM akan menampung informasi baik dari pihak sekolah maupun orang tua siswa sebelum mengambil langkah lebih lanjut.

“Kami butuh konfirmasi orang tua dan sekolah dulu,” tandasnya.

Sebelumnya, orang tua murid berinisial RA melayangkan protes keras terkait dugaan perilaku tidak pantas guru honorer di sekolah tersebut. RA menilai anaknya dipermalukan karena dipanggil dengan sebutan “binatang” saat bermain bersama teman-temannya.

“Dia bilang binatang sama anak saya. Waktu itu anak saya sedang bermain, memang sudah ditegur, tapi masih main lagi. Baru setelah itu guru tersebut keluar kata ‘binatang’ sambil marah-marah,” ungkap RA dengan nada kecewa, Rabu (24/09/2025).

RA menilai tindakan tersebut tidak pantas dilakukan seorang tenaga pendidik.

“Guru itu seharusnya membina dengan baik, bukan mengeluarkan kata-kata kasar. Saya sebagai orang tua merasa anak saya direndahkan,” tegasnya.

RA menambahkan, guru yang bersangkutan masih berstatus tenaga honorer.

“Dia itu baru guru honor, dan saya sangat tidak terima anak saya disebut binatang di sekolah,” ujarnya.

Kepala MIM Iloponu, Nurhayati Pilomonu, saat dikonfirmasi mengaku masih meminta waktu untuk menyelesaikan persoalan tersebut.

“Saya minta waktu untuk menyelesaikannya,” kata Nurhayati.

Menurut Nurhayati, guru honorer berinisial A merupakan operator sekolah sekaligus pengajar Aqidah Akhlak.

“Insya Allah saya akan undang orang tua dengan guru itu untuk menyelesaikan masalah ini,” ucapnya.

Sementara itu, guru honorer berinisial A mengklarifikasi tudingan tersebut. Ia menegaskan tidak pernah bermaksud menghina ataupun menyebut langsung siswa dengan kata “binatang”. Menurutnya, perkataan itu keluar dalam bentuk peribahasa untuk semua siswa saat ulangan harian.

“Saya kan sementara kasih ulangan harian. Anak yang bersangkutan dari awal sudah tidak mencatat dengan alasan tertinggal. Setelah selesai, saya suruh ikut dengan temannya untuk lihat soal, tapi dia tidak ada pergerakan. Baru saya tegur lagi, barulah dia menulis ulang,” ujar A, Kamis (25/09/2025).

Ia menambahkan, selama ujian bukan hanya satu siswa yang ditegur. Ada beberapa murid lain yang dinilainya tidak mendengarkan arahan guru.

“Karena beberapa kali saya tegur, saya bilang sama siswa yang tidak mau mendengar lagi, ibu mau tambah soal. Akhirnya ada dua orang saya tambah soalnya. Nah, anak yang bersangkutan ini ribut ulang, dia bermain kertas, padahal sudah saya tegur berulang kali,” jelasnya.

Dari situ, A mengaku spontan memberikan perumpamaan.

“Saya bilang, manusia itu kalau ditegur satu kali langsung mendengar, tapi kalau sudah berulang kali ditegur tapi tidak mau mendengar, itu so ‘binatang’ itu. Tapi tidak pernah saya bilang kalau dia ini ‘binatang’. Sama sekali tidak. Itu peribahasa untuk semua siswa, bukan ditujukan kepada satu orang,” tegasnya.

Lebih lanjut, A juga menceritakan bahwa usai jam pelajaran, salah satu teman siswa sempat mengatakan bahwa murid itu akan menyampaikan ucapan guru kepada orang tuanya.

“Saya panggil dia untuk bicara baik-baik, tapi dia tidak mau datang. Dia malah lari, jadi saya biarkan saja, tidak saya paksa. Setelah itu saya langsung pulang,” pungkasnya.

Komentar