Gorontalo Utara – Pemungutan Suara Ulang (PSU) Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) Gorontalo Utara menjadi episentrum perhatian publik Gorontalo. Pasalnya, di tengah dinamika politik lokal, Gorontalo Utara menjadi satu-satunya daerah di provinsi tersebut yang diperintahkan Mahkamah Konstitusi (MK) untuk menggelar PSU.
Hal ini membuat Pilkada Gorontalo Utara berbeda dari daerah lain di Provinsi Gorontalo, yang para kepala daerahnya telah dilantik serentak oleh Presiden Prabowo Subianto di Istana Kepresidenan pada Kamis, 20 Februari 2025, bersama para kepala daerah terpilih lainnya hasil Pilkada 2024 se-Indonesia.
Kondisi ini menjadikan PSU Gorontalo Utara sebagai momen krusial, bukan hanya dari sisi legalitas dan demokrasi, tetapi juga dari sisi kontestasi politik yang kembali membara. Terutama bagi Pasangan Calon (Paslon) Nomor Urut 1, Roni Imran dan Ramdhan Mapaliey, yang kembali menunjukkan semangat juang tinggi dalam menghadapi putaran ulang ini. Mereka, bersama tim pemenangannya yang dipimpin Rizal Alaydrus, tidak tampak kehilangan semangat sedikit pun.
Bagi paslon yang dikenal dengan jargon Romantis (Roni-Ramdhan Optimis) itu, PSU bukan sekadar pengulangan teknis. Mereka memaknai PSU sebagai periode kedua dalam kompetisi Pilkada, sebuah kontestasi lanjutan setelah kemenangan pertama yang telah diraih sebelumnya.
“Kami menganggap PSU ini seperti pemilihan di periode kedua. Periode pertama kami menang, dan Insya Allah periode berikutnya pun kami akan menang,” ujar Roni Imran dalam konferensi pers di Jakarta, pada Senin (24/02/2025) malam, pasca putusan MK.
Pernyataan tersebut menggambarkan keyakinan kuat yang masih dipegang teguh oleh Paslon Romantis. Optimisme mereka tentu tidak muncul tanpa alasan. Dalam hasil rekapitulasi Pilkada sebelumnya, Romantis mencatat kemenangan signifikan dibanding dua rivalnya.
Dari total 245 Tempat Pemungutan Suara (TPS) yang tersebar di 123 desa di 11 kecamatan, Roni-Ramdhan mengantongi 41.842 suara. Paslon Thariq Modanggu-Nurjana Yusuf yang berada di posisi kedua, meraih 29.283 suara, sementara Paslon Ridwan Yasin-Muksin Badar mengumpulkan 5.104 suara.
Secara matematis, jarak suara ini menunjukkan dominasi Romantis yang cukup mencolok. Meski PSU menjadi tantangan baru, modal suara yang sudah terbangun sebelumnya menjadi sumber kepercayaan diri yang tak tergoyahkan. Namun, bukan berarti mereka bisa lengah. PSU tetaplah kontestasi baru, dengan segala kemungkinan dan dinamika yang bisa berubah sewaktu-waktu.
Kini, PSU Gorontalo Utara tak ubahnya seperti babak kedua dalam sebuah laga penting. Bagi Roni Imran dan Ramdhan Mapaliey, ini adalah kesempatan untuk mengukuhkan kembali dukungan rakyat, sekaligus membuktikan bahwa kemenangan mereka sebelumnya bukan kebetulan, melainkan hasil dari kerja nyata dan kepercayaan publik yang tulus.







Komentar