Gorontalo – Di tengah dampak banjir bandang yang merendam sedikitnya 51 rumah warga di Desa Totopo, Kecamatan Bilato, Kabupaten Gorontalo, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Gorontalo hingga kini belum memberikan penjelasan resmi kepada publik.
Sekretaris BPBD Kabupaten Gorontalo, Agus Pakaya, memilih bungkam dan terkesan cuek, meski telah berulang kali dikonfirmasi oleh awak media. Upaya konfirmasi dilakukan sejak Kamis (01/01/2026) pukul 11.57 hingga 20.06 WITA melalui sambungan telepon dan pesan WhatsApp. Namun hingga berita ini diturunkan, tidak satu pun panggilan dijawab maupun pesan dibalas oleh yang bersangkutan.
Sikap diam dan terkesan abai tersebut menuai sorotan publik, mengingat banjir bandang yang terjadi pada Selasa (30/12/2025) malam berdampak luas terhadap warga Desa Totopo. Bencana tersebut dipicu hujan deras yang mengguyur Kecamatan Bilato sejak sore hari. Sekitar pukul 20.15 WITA, Sungai Totopo meluap dan air masuk ke permukiman warga secara tiba-tiba.
Tokoh masyarakat Desa Totopo, Masykur Salam, mengatakan banjir bandang terjadi tanpa adanya tanda-tanda sebelumnya. Menurut dia, luapan Sungai Totopo mendadak membesar dan langsung menerjang permukiman warga.
“Banjir datang secara tiba-tiba tanpa sepengetahuan warga. Air langsung masuk ke permukiman dan banyak barang-barang milik warga yang hanyut,” ujar Masykur, Kamis (01/01/2026).
Akibat kejadian tersebut, sedikitnya 51 rumah warga dilaporkan terdampak. Sejumlah barang berharga milik warga tidak sempat diselamatkan, dengan total kerugian materiil ditaksir mencapai ratusan juta rupiah.
Selain merendam permukiman warga, banjir bandang juga mengakibatkan kerusakan parah pada tanggul Sungai Totopo. Tanggul yang dibangun pada April 2025 itu disebut tidak mampu menahan tingginya debit air sungai.
“Tanggul yang dikerjakan pada April 2025 kemarin semuanya rusak dan hanyut. Itu hanya tanggul darurat berupa timbunan tanah di pinggir sungai serta pemasangan karung pasir, sehingga tidak kuat menahan banjir besar,” jelasnya.
Masykur menuturkan, jebolnya tanggul Sungai Totopo menjadi penyebab utama terjadinya banjir bandang di wilayah tersebut. Ia mengungkapkan, kondisi tanggul sudah lama dikeluhkan warga karena kerap rusak dan jebol setiap kali hujan deras mengguyur kawasan itu.
“Tanggul itu sudah lama rusak dan sering jebol. Bahkan saat saya masih menjabat sebagai kepala desa, sudah pernah diajukan proposal penanganan ke pemerintah, tetapi sampai sekarang belum ada perbaikan secara permanen,” ungkapnya.
Lebih lanjut, Masykur menyayangkan belum adanya perhatian dari pemerintah daerah pascabencana. Hingga berita ini diturunkan, kata dia, belum ada satu pun pejabat pemerintah yang turun langsung meninjau kondisi warga terdampak banjir.
“Sampai dengan saat ini belum ada pemerintah yang datang meninjau. Datang ke rumah-rumah penduduk saja tidak ada,” katanya.
Warga berharap pemerintah daerah segera mengambil langkah nyata, tidak hanya dalam penanganan darurat, tetapi juga melalui perbaikan tanggul secara permanen serta penyampaian informasi yang terbuka kepada publik. Namun hingga kini, pihak BPBD Kabupaten Gorontalo masih belum menyampaikan keterangan resmi terkait banjir bandang di Desa Totopo.
Hingga berita ini diterbitkan, awak media masih berupaya melakukan konfirmasi kepada Kepala BPBD Kabupaten Gorontalo.







Komentar