40 Hari Wafat Rachmat Gobel, Sofyan Puhi Ziarah ke TMP Kalibata

paripurna.co.id Jakarta – Suasana khidmat mewarnai ziarah Bupati Gorontalo Sofyan Puhi bersama Ketua Tim Penggerak Pemberdayaan dan Kesejahteraan Keluarga (TP-PKK) Kabupaten Gorontalo, Maryam Sofyan Puhi, ke makam almarhum Rachmat Gobel di Taman Makam Pahlawan (TMP) Kalibata, Jakarta, Selasa (18/08/2026). Ziarah tersebut dilakukan dalam rangka memperingati 40 hari wafatnya tokoh nasional asal Gorontalo itu.

Peringatan 40 hari wafat dalam tradisi masyarakat Gorontalo dikenal dengan prosesi Mopolahu Pa’ita, yakni rangkaian adat yang ditandai dengan membawa dan meletakkan batu nisan permanen di makam almarhum.

Prosesi tersebut menjadi bagian dari penghormatan kepada orang yang telah meninggal sekaligus momentum bagi keluarga dan masyarakat untuk mengenang jasa serta keteladanan almarhum.

Mopolahu Pa’ita memadukan nilai-nilai keislaman dengan adat dan budaya Gorontalo. Salah satu rangkaian utamanya adalah Aruwa, berupa pembacaan doa keselamatan dan zikir yang dipimpin pemuka agama atau imam.

Dalam prosesi tersebut juga terdapat usungan nisan, yakni kerangka hiasan berbentuk menyerupai masjid kecil dengan payung berkubah. Bentuk dan coraknya disesuaikan dengan adat serta jenis kelamin almarhum.

Selain itu, dikenal pula tradisi Bako Hati, berupa kotak atau wadah yang berisi kue tradisional dan uang logam untuk dibagikan kepada tamu dan pelayat. Tradisi ini menjadi simbol kenangan dan penghormatan sekaligus sarana mempererat tali silaturahmi antarkeluarga dan masyarakat.

Penggunaan warna pakaian tertentu juga menjadi bagian dari simbol tahapan adat. Warna biru langit, misalnya, digunakan pada tahapan tertentu, termasuk hari ke-30 dan ke-40, yang dimaknai sebagai simbol perjalanan menuju keikhlasan keluarga atas kepergian orang yang dicintai.

Dalam kesempatan tersebut, Sofyan Puhi dan Maryam mengikuti rangkaian doa serta penghormatan di pusara Rachmat Gobel. Kehadiran keduanya menjadi bentuk penghormatan Pemerintah Kabupaten Gorontalo kepada almarhum yang dinilai memiliki jasa dan pengabdian bagi daerah maupun bangsa.

Semasa hidupnya, Rachmat Gobel dikenal sebagai tokoh asal Gorontalo yang memiliki kiprah luas di tingkat nasional. Atas jasa dan pengabdiannya, almarhum dianugerahi gelar adat Pulanga “Ti Bulilango Hunggia”, yang bermakna Pemberi Cahaya Negeri, pada 2000.

Setelah wafat pada Juli 2026, Rachmat Gobel kembali dianugerahi gelar kehormatan adat secara anumerta, yakni “Ta Lo’o Lamahe Lipu”, yang bermakna sosok yang memakmurkan dan membangun negeri.

Peringatan 40 hari melalui prosesi Mopolahu Pa’ita tidak hanya menjadi momentum bagi keluarga untuk mengenang almarhum. Tradisi tersebut juga menjadi bagian dari upaya menjaga nilai-nilai adat Gorontalo yang berpadu dengan pesan keagamaan, penghormatan kepada orang yang telah meninggal, serta semangat mempererat persaudaraan.

Komentar

News Feed